Merek Bomboloni Diklaim, Orang Dilarang Pakai. Kok Bisa?

Beberapa waktu terakhir, sedang ramai dibahas di media sosial tentang Bomboloni. Bomboloni adalah sejenis donat tetapi tidak terdapat lubang di tengahnya.

Selain itu, Bomboloni juga ada isian di tengahnya. Isian selai lumer dan balutan tepung gula pada luarnya membuat bomboloni terasa lebih legit ketimbang donat.

Namun, beberapa hari terakhir ini netizen sedang sibuk membahas bomboloni. Bukan soal selai atau tepung gulanya.

Keriuhan itu berawal dari klaim pemilik Gerai Bomboloni yang mendaftarkan merek “Bomboloni” ke Dirjen HAKI. Pemilik akun Facebook “Bomboloni Aidillah Dillah” mengklaim bahwa nama Bomboloni sudah menjadi hak miliknya, sehingga orang lain tidak diperkenankan menggunakannya.

Jika orang ingin mengucapkan kata Bomboloni, Aidillah menyarankan untuk menggunakan kata pengganti lainnya.

Tangkapan layar percakapan tentang kata Bomboloni di Facebook

Aidillah, dengan nama asli Aidillah Sapitri adalah pemilik merek Bomboloni yang terdaftar di PDKI (Pangkalan Data Kekayaan Intelektual), Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.

Gerai Bomboloni terletak Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara.

Lalu, bagaimana semestinya nama atau keterangan makanan didaftarkan sebagai merek atau hak paten?

Pada pasal 5 huruf D Undang-Undang Merek No 15 Tahun 2001 disebutkan, “Bahwa merek tidak boleh didaftarkan apabila merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya”

Sementara, bomboloni adalah nama makanan. Jika melihat dari pasat tersebut di atas, kata Bomboloni tidak dapat didaftarkan sebegai merek atas makanan bomboloni itu sendiri.

Sama halnya dengan kasus Fudji Wong dari Banyumas yang pernah memiliki hak merek “Mendoan” selama beberapa tahun. Padahal, mendoan adalah nama makanan. Sehingga Fudji Wong menyerahkannya kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas agar kata mendoan tidak lagi menjadi merek milik pribadi.

Dengan sukarela, Fudji Wong mengajukan penghapusan atas merek “Mendoan” yang ia miliki.

Kembali ke persoalan Bomboloni.

Ketika kami mengecek di web PDKI milik Dirjen Kekayaan Intelektual, Bomboloni terdaftar dengan kelas 35. Kelas 35 bukanlah kelas untuk makanan, melainkan kelas untuk jasa. Bukan kelas untuk merek roti atau donat.

Makanan ada di kelas 29, 30 dan 31. Untuk donat, kue dan makanan yang siap santap ada di kelas 30.

Jadi, klaim pemilik Gerai Bomboloni atas larangan penggunaan kata Bomboloni adalah kurang tepat.

Ada kemungkinan, Aidillah pernah mendaftarkan merek Bomboloni di kelas 30 tetapi ditolak. Atau kata “Gerai Bomboloni” juga ditolak karena dua kata itu adalah bahasa/istilah atau keterangan barang.

Kelas 35 yang dihuni Bomboloni dari Tebing Tinggi, secara hukum tidak dapat mencegah siapapun menggunakan kata Bomboloni untuk menyebut istilah makanan donat tanpa lubang dengan isian selai itu.

Jadi, kesimpulan kami, Bomboloni tidak dapat didaftarkan sebagai merek makanan bomboloni itu sendiri.

Aidillah Sapitri mendaftarkan merek “Bomboloni” bukan untuk makanan, tetapi untuk tokonya. Karena “toko roti” ada di kelas 35, sesuai yang didaftarkan oleh Aidillah Sapitri. Sementara makanan donat ada di kelas 30.

Hal itulah yang kemudian membuat sejumlah netizen geram dan riuh karena dilarang mengucapkan kata Bomboloni oleh Aidillah.

About Aqeel Hamizan

Aqeel Hamizan adalah penulis seputar bisnis. Kecintaannya pada dunia bisnis dan penulisan membuatnya memiliki keseriusan di bidang ini. Tekadnya adalah menjadi jurnalis dan pengusaha bisnis yang sukses.

Check Also

Pegiat UKM Admiral Maiza Meninggal Dunia

Kabar duka datang dari pegiat UKM Indonesia. Admiral Maiza, yang dikenal sebagai pendamping UMKM Indonesia …

Leave a Reply

Your email address will not be published.